“Resistez” atau “Bertahan!” adalah sebuah kata yang digoreskan Marie Durant di tembok menara tempat ia dikurung selama tiga puluh delapan tahun karena tidak mau meninggalkan iman nya. Seorang gadis yang berusia empat belas tahun, cemerlang, menarik dan lajang, diminta untuk mengucapkan “J’abjure” (janji untuk meninggalkan iman nya), namun ia tidak bersedia. Ia dikurung bersama tiga puluh wanita lainnya di sebuah menara tepi laut, dan ia bertahan!
Hal diatas adalah sebuah kesaksian yang saya baca dalam sebuah buku. Buku tentang iman.
Di masa lalu, begitu banyak umat percaya (secara khusus umat yang setia) yang dipaksa / diuji untuk meninggalkan iman nya dengan cara penganiayaan, kekerasan maaupun keterasingan. Iblis nampaknya gemar memakai ide itu pada zaman dulu, agar banyak orang bisa menemani nya di neraka kekekalan kemudian. Tentunya dia tidak menyukai sosok-sosok seperti Marie Durant yang bertahan terhadap iman nya. Berita baiknya, Iblis gagal!
Namun ada berita buruk, tampaknya iblis tidak menyerah begitu saja. Zaman pun berlalu dari masa ke masa, sampai saat ini, dan iblis tetap ada mencari celah agar umat percaya mau meninggalkan iman nya.
Saya pernah mendengar dan membaca, ada seorang hamba Tuhan yang meninggalkan iman nya karena melihat sebuah berita seorang wanita tua di Afrika dengan pose meminta pertolongan kepada Allah dan kemudian meninggal tragis. Tentu saja bukan hanya itu penyebabnya, tapi itu jadi sebuah ‘bukti’ bagi dia, bahwa Allah yang dia percaya selama ini tidak berkuasa ataupun berbelas kasih. Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih dan penuh kuasa tidak sanggup menolong dan menyelamatkan wanita tua itu?
Ide ini yang terus dikembangkan oleh Iblis, dengan menghasut orang percaya mempertanyakan iman nya. Sudah jarang ia memakai ide kekerasan atau penganiayaan secara fisik, yang banyak ia lakukan adalah membisikkan begitu banyak pertanyaan tentang kasih dan kuasa Tuhan. Hal yang paling rentan akan hal itu adalah ketika seseorang mengalami kegagalan, keterpurukan, penolakan, jatuh miskin, sendiri dan lain sebagainya, yang pada hakikatnya adalah mengalami hidup yang berat / sulit. Semakin berat hidup seseorang, semakin rentan ia akan bertanya kepada Tuhan, mengapa (hal-hal buruk) ini harus terjadi? dimana kasih-Mu dan kuasa-Mu?
Untuk beberapa orang, ujian akan beratnya hidup yang mereka alami terlalu besar dan dianggap diluar batas normal kemampuan mereka untuk bertahan. Memang tidak mudah untuk bertahan!
Ibarat sebuah perang, musuh didepan begitu kuat. Ketakutan itu begitu kuat! Khawatir itu begitu kuat! Sakit itu begitu kuat! Kepahitan itu begitu kuat!
Kesetiaan itu bisa saja membuat seseorang kehilangan sesuatu yang berharga, dan bahkan segala sesuatu. Marie Durant hanya lah satu contoh diantara begitu banyak contoh para umat percaya yang kehilangan segala sesuatu. Namun ia tetap bertahan!
Bukan kapasitas saya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana hal-hal buruk bisa terjadi dalam hidup seseorang, namum saya berani mengatakan bahwa saya juga mengalami nya. Tidak semua atau belum semua pertanyaan saya yang Tuhan jawab secara pribadi bagi saya. Namun, ada hal lain yang membuat saya berpaling dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan salah satu diantara nya adalah iman. Iman membuat Marie Durant menuliskan kata “bertahan” dalam menara tempat ia dikurung, selama tiga puluh delapan tahun. Iman yang kokoh tentang Tuhan yang tidak bisa digeser oleh situasi apapun. Percaya pada Dia, Sang Empunya segala sesuatu.
Iman itu berkata kepada saya, bahwa akan ada anugerah masa depan yang begitu melimpah menantimu, kamu telah membaca nya di Kitab yang sudah dituliskan kepadamu, yaitu Firman-Nya. Bukan hanya itu, di masa ini, Ia selalu hadir bersamamu setiap kali kamu mengalami kesusahan, kepahitan ataupun kegagalan. Manusia dengan kasih yang terbatas bisa membuat sebuah skenario cerita dengan akhir yang begitu bahagia (happy ending), terlebih Tuhan yang kasih-Nya tidak terbatas, hikmat yang tidak terselami, dapat membuat sebuah akhir yang lebih dari bahagia, sesuatu yang sempurna, yang bahkan tidak sanggup kita pikirkan. Hanya, untuk mencapai hal itu, kamu perlu bertahan, jangan menyerah oleh tipu daya iblis, dan setia lah mengikut jalan-Nya. Bertahanlah sampai kamu bertemu muka dengan muka, dengan Dia, dan merasakan sukacita abadi yang tidak pernah akan hilang darimu.
Bertahan!
“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat 24:13)