Dear Lord..

Tuhan..

Aku merindukan masa-masa penuh bahagia
Dimana aku bisa senyum dan tertawa
Tapi aku harus menunggu
Kapan itu aku tidak tahu

Aku sadar butuh perjalanan yang panjang
Mencapai tujuan agar hati senang
Melalui jalan yang tidak gampang
Sampai akhirnya aku menang

Pengorbanan membuat tubuh letih
Kegagalan membuat hati sedih
Penolakan membuat jiwa pedih
Kehilangan membuat batin perih

Sejak malam hingga fajar menyingsing
Badanku tetap lemah terbaring
Kepalaku terasa begitu pusing
Airmataku habis dan kering
Berkali-kali aku begini
Makin hari makin bertambah
Seakan tidak berhenti
Makin hari makin hampa

Namun..
Setiap kali aku letih
Aku dipeluk dan dihargai
Setiap kali aku sedih
Aku dihibur dan ditemani
Setiap kali aku pedih
Aku tidak ditinggal sendiri
Setiap kali aku perih
Aku didekap dan dicintai

Engkau hadir dan membuat segalanya berarti..

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman
(Aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku)
Sekalipun hasil pohon zaitun mengecewakan
(Aku akan beria-ria didalam Allah yang menyelamatkan aku)
Sekalipun aku duduk di dalam gelap
(Tuhan akan menjadi terangku)
Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap
(Allah tetap Gunung batuku dan bagianku)

Jikalau sekiranya mungkin terjadi
Biarlah cawan ini ini lalu dan pergi
Tetapi janganlah seperti yang kukehendaki
Melainkan seperti yang Engkau kehendaki

Engkau hadir dan membuat segalanya berarti..

Aku percaya akan imanku
Aku memegang pengharapanku
Aku mengingat janjiku
Aku menanti kebahagiaanku
Ya Tuhan, dengarkanlah pintaku
Didalam masa-kesukaranku
kiranya Engkau selalu besertaku

(Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.)

Posted in Prayer, Way of Faithfulness | Leave a comment

Sincerely

-Sincerely-

I look to my book of past
read it page by page
and i found you many times
with your sincere heart
and sincere faith

Time goes by
and the book had changed
as I see you now in the present
it’s kind of different
sounds like you’ve changed
or myself changed
and I don’t know the answer

I miss your sincere
but I look to myself
maybe this time
it’s me who had to be sincere

It’s good when you happy
and maybe the time has come
for you to make decision
and step forward
because I’ve made myself
-I’ll keep my word
and also my promise-

You don’t have to worry
and don’t have to look back
if you unwilling

Keep moving forward
I’ll keep watching your back
until the time for me has come
I will love you
Sincerely..

Posted in Love, Poem, Way of Faithfulness | Leave a comment

Love color the life

Love color the life…

It can be red like blood,
because love is sacrifice

It can be yellow like sun,
because love shines

It can be green like plant,
because love grows

It can be blue like sky,
because love stays

It can be white,
because love is pure

It can be black,
because love endures

Whatever the color of your life,
make sure you know the One who created it for you..

because He’s the One that all what the love is..
God loves you

(Tribute to Valentine’s day)
flowers wilt, chocolates melt, loves still there

Posted in Poem, Way of Faithfulness | Leave a comment

“Life is a maze and Love is a riddle”

Hidup bagaikan sebuah labirin, dan cinta sebuah misteri. Itulah salah satu potongan lirik sebuah lagu yang pernah saya dengar dan saya baca di sebuah status teman saya. Apakah kamu setuju dengan kalimat tersebut?

Saya harus akui, begitu banyak orang -termasuk saya- sering bertanya-tanya tentang hidup maupun cinta (sebenarnya saya lebih suka memakai kata kasih dibanding cinta, tapi tak mengapa, saya pikir makna nya sama).
Pada waktu kecil, saya sering bertanya, bagaimana mungkin orang tua saya mengasihi saya tetapi tidak membiarkan saya keluar bermain dengan teman-teman di malam hari. Jikalau mereka mengasihi saya, kenapa mereka tidak membiarkan saya bahagia dengan bermain bersama teman-teman saya di malam hari. Seperti ada yang kontras antara perkataan dan perbuatan, dan membuat saya bingung. Seseorang pernah berkata kepada saya, kamu mengatakan sangat ingin datang ke acara ini, tapi tetap saja kamu (harus) datang ke acara lain sekalipun (katamu) hatimu memilih untuk datang ke acara ini. Sekali lagi, hal ini terlihat bertentangan dan membingungkan.

Saya berpikir, banyak yang merasa -termasuk saya- bahwa hidup dan cinta itu lebih butuh sebuah bukti nyata dibanding perkataan. Namun, apakah selalu harus demikian?

Coba bayangkan seseorang yang kamu kasihi, kamu berkata pada nya bahwa kamu sangat mengasihi nya namun kamu tidak bisa hadir bersamanya di saat-saat penting dalam hidupnya. Saya banyak melihat hal tersebut di tempat saya melakukan pekerjaan. Di sebuah kamp tepencil, jauh dari perkotaan, terdapat orang-orang yang bekerja membangun sesuatu dan mereka harus tinggal disitu dalam jangka waktu yang sangat lama. Mereka sangat mungkin melewatkan ulang tahun orang tua nya, ulang tahun pernikahan nya, hari kelulusan anak nya, dan bisa jadi sampai kepada hal yang paling tragis, kematian orang yang mereka kasihi. Ketika hal itu terjadi, sangat mungkin ada yang berkata, apakah mereka sungguh-sungguh mengasihi keluarga nya?

Ada satu contoh lagi yang saya baca hari ini. Sebuah cerita tentang sebuah bangsa yang mengeluh bahwa mereka tidak dikasihi oleh Tuhan yang mereka sembah. Mereka melihat bangsa lain yang tidak mengasihi dan menuruti perintah-Nya malah hidup dengan baik (bangsa lain itu menyembah allah lain), sedangkan situasi mereka lebih buruk dari bangsa lain itu. Kisah itu berlanjut dengan perkataan Tuhan:

“Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?”
“Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” (Maleakhi 1:2-3)

Dia menegaskan bahwa Dia mengasihi mereka! Buktinya? Dia memilih mereka (diantara begitu banyaknya bangsa-bangsa lain) dan peduli dengan mereka (menyelamatkan mereka dari pembuangan, membantu mereka membangun bait Allah kembali, dan kemudian memelihara hidup mereka disana). Seorang Ray Stedman mem-frase-kan kalimat Allah diatas dengan bahasa seperti ini, “Jika kamu mau mengerti akan kasih-Ku, lihatlah mereka yang tidak menikmati kasih-Ku. Lihatlah Esau dan perhatikan bagaimana perbedaan cerita kamu (keturunan Yakub-red) dengan cerita nya, sekalipun Yakub dan Esau adalah saudara kembar.”

Hidup dan cinta itu mempunyai begitu banyak pertanyaan. Mungkin itu sebabnya lirik lagu diatas menyebut nya sebuah misteri. Hal yang membantu saya untuk mengerti dan percaya adalah bukan berusaha mengetahui hidup dan cinta itu, tetapi mengenal Pemberi Hidup dan mengenal (pribadi) mereka yang mengasihi saya.

Itu membantu saya merenungkan betapa indahnya hidup ini dan betapa besarnya saya dikasihi.

just enjoy the show….

Posted in Narration, Way of Faithfulness | Leave a comment

Resistez!

“Resistez” atau “Bertahan!” adalah sebuah kata yang digoreskan Marie Durant di tembok menara tempat ia dikurung selama tiga puluh delapan tahun karena tidak mau meninggalkan iman nya. Seorang gadis yang berusia empat belas tahun, cemerlang, menarik dan lajang, diminta untuk mengucapkan “J’abjure” (janji untuk meninggalkan iman nya), namun ia tidak bersedia. Ia dikurung bersama tiga puluh wanita lainnya di sebuah menara tepi laut, dan ia bertahan!

Hal diatas adalah sebuah kesaksian yang saya baca dalam sebuah buku. Buku tentang iman.

Di masa lalu, begitu banyak umat percaya (secara khusus umat yang setia) yang dipaksa / diuji untuk meninggalkan iman nya dengan cara penganiayaan, kekerasan maaupun keterasingan. Iblis nampaknya gemar memakai ide itu pada zaman dulu, agar banyak orang bisa menemani nya di neraka kekekalan kemudian. Tentunya dia tidak menyukai sosok-sosok seperti Marie Durant yang bertahan terhadap iman nya. Berita baiknya, Iblis gagal!
Namun ada berita buruk, tampaknya iblis tidak menyerah begitu saja. Zaman pun berlalu dari masa ke masa, sampai saat ini, dan iblis tetap ada mencari celah agar umat percaya mau meninggalkan iman nya.

Saya pernah mendengar dan membaca, ada seorang hamba Tuhan yang meninggalkan iman nya karena melihat sebuah berita seorang wanita tua di Afrika dengan pose meminta pertolongan kepada Allah dan kemudian meninggal tragis. Tentu saja bukan hanya itu penyebabnya, tapi itu jadi sebuah ‘bukti’ bagi dia, bahwa Allah yang dia percaya selama ini tidak berkuasa ataupun berbelas kasih. Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih dan penuh kuasa tidak sanggup menolong dan menyelamatkan wanita tua itu?

Ide ini yang terus dikembangkan oleh Iblis, dengan menghasut orang percaya mempertanyakan iman nya. Sudah jarang ia memakai ide kekerasan atau penganiayaan secara fisik, yang banyak ia lakukan adalah membisikkan begitu banyak pertanyaan tentang kasih dan kuasa Tuhan. Hal yang paling rentan akan hal itu adalah ketika seseorang mengalami kegagalan, keterpurukan, penolakan, jatuh miskin, sendiri dan lain sebagainya, yang pada hakikatnya adalah mengalami hidup yang berat / sulit. Semakin berat hidup seseorang, semakin rentan ia akan bertanya kepada Tuhan, mengapa (hal-hal buruk) ini harus terjadi? dimana kasih-Mu dan kuasa-Mu?

Untuk beberapa orang, ujian akan beratnya hidup yang mereka alami terlalu besar dan dianggap diluar batas normal kemampuan mereka untuk bertahan. Memang tidak mudah untuk bertahan!
Ibarat sebuah perang, musuh didepan begitu kuat. Ketakutan itu begitu kuat! Khawatir itu begitu kuat! Sakit itu begitu kuat! Kepahitan itu begitu kuat!

Kesetiaan itu bisa saja membuat seseorang kehilangan sesuatu yang berharga, dan bahkan segala sesuatu. Marie Durant hanya lah satu contoh diantara begitu banyak contoh para umat percaya yang kehilangan segala sesuatu. Namun ia tetap bertahan!

Bukan kapasitas saya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana hal-hal buruk bisa terjadi dalam hidup seseorang, namum saya berani mengatakan bahwa saya juga mengalami nya. Tidak semua atau belum semua pertanyaan saya yang Tuhan jawab secara pribadi bagi saya. Namun, ada hal lain yang membuat saya berpaling dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan salah satu diantara nya adalah iman. Iman membuat Marie Durant menuliskan kata “bertahan” dalam menara tempat ia dikurung, selama tiga puluh delapan tahun. Iman yang kokoh tentang Tuhan yang tidak bisa digeser oleh situasi apapun. Percaya pada Dia, Sang Empunya segala sesuatu.

Iman itu berkata kepada saya, bahwa akan ada anugerah masa depan yang begitu melimpah menantimu, kamu telah membaca nya di Kitab yang sudah dituliskan kepadamu, yaitu Firman-Nya. Bukan hanya itu, di masa ini, Ia selalu hadir bersamamu setiap kali kamu mengalami kesusahan, kepahitan ataupun kegagalan. Manusia dengan kasih yang terbatas bisa membuat sebuah skenario cerita dengan akhir yang begitu bahagia (happy ending), terlebih Tuhan yang kasih-Nya tidak terbatas, hikmat yang tidak terselami, dapat membuat sebuah akhir yang lebih dari bahagia, sesuatu yang sempurna, yang bahkan tidak sanggup kita pikirkan. Hanya, untuk mencapai hal itu, kamu perlu bertahan, jangan menyerah oleh tipu daya iblis, dan setia lah mengikut jalan-Nya. Bertahanlah sampai kamu bertemu muka dengan muka, dengan Dia, dan merasakan sukacita abadi yang tidak pernah akan hilang darimu.

Bertahan!

“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat 24:13)

Posted in Narration, Way of Faithfulness | Leave a comment